Pelajaran dari Sepuluh Tahun Menjadi Ibu

Hari ini, 6 Juni 2024, si sulung genap berusia sepuluh tahun. Itu artinya sepuluh tahun sudah saya menjalani peran sebagai ibu. Kali ini saya ingin berefleksi tentang sepuluh tahun menjadi ibu.

Bangun tidur, menjalankan kewajiban ini dan itu, lalu tidur paling larut. Begitu terus, nyaris setiap hari. Benar-benar tidak terasa, ternyata sudah satu dekade saja menjadi ibu.

Dulu, saya pikir jadi ibu itu mudah. Apalagi sebelum punya anak, saya sering ikut seminar atau diskusi parenting. Kerap pula wawancara psikolog anak dan remaja, juga membaca aneka buku dan jurnal parenting. Nyatanya, menjadi ibu tidak semudah yang dibayangkan.

Sebagai perantau, saya harus bisa melakukan semua sendiri. Di awal menjadi ibu, kudu “tega” meninggalkan anak dari pagi sampai malam di daycare, lantaran harus bekerja. Padahal kala itu, si kecil masih berumur sekitar dua bulan.

Juggling sebagai ibu bekerja dan ibu baru tidaklah mudah. Apalagi kala itu semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Memasak, mencuci, hingga merapikan rumah. Di rumah pun masih sambil mengerjakan pekerjaan kantor.

Kala itu, iri sekali rasanya pada teman-teman yang mendapat asistensi dari ibunya, mertuanya, atau kerabatnya. Dibantu merawat anaknya. Ditolong melakukan pekerjaan rumahnya. Namun, saya membesarkan hati dengan terus mengafirmasi diri, bahwa Allah pasti tidak salah memilih pundak.

Sepuluh tahun menjadi ibu, apakah lantas menjadikan saya lebih “jago” dalam berbagai hal? Nyatanya tidak. Saya kerap melakukan kesalahan yang sama. Namun, dalam sepuluh tahun menjadi ibu, ada beberapa hal yang saya pelajari.

Jadi Diri Sendiri Selalu Lebih Baik

Pernahkah terintimidasi dengan orang lain yang tampak sebagai istri sekaligus ibu teladan? Ada orang yang selalu tampil cantik dan badan terawat, rumah rapi jali, rajin memasak, dan jarang terpancing emosinya saat menghadapi ulah si kecil yang random.

Lalu, saat melihat diri sendiri merasa sangat buruk dan gagal. Wajah kusam, kulit tampak tua, pakaian tidak modis, rumah sering berantakan, dan terkadang suara naik beberapa oktaf kala anak bersikap tak seperti yang diharapkan.

Pada akhirnya saya sadar, nggak perlu sesempurna ibu-ibu yang saya lihat di media sosial. Tidak perlu berubah seperti sosok teladan dan ideal, karena kita yang paling tahu diri kita sendiri.

Buat apa jadi seperti sosok ideal itu, jika malah bikin diri sendiri tertekan dan tidak bahagia. Satu hal yang diperlukan adalah penerimaan. Menerima bahwa ketika menjadi ibu, pasti ada banyak hal yang berubah. Rumah yang dulu selalu rapi, kini jarang rapinya. Nggak apa-apa.

Rumput yang saya pijak, berbeda dengan rumput orang lain. Sayalah yang paling tahu kondisi rumput ini. Menjadi diri sendiri selalu lebih baik. Kendati begitu, tidak ada salahnya selalu belajar untuk menjadi ibu yang diam di tempat. Harus upgrade diri agar bisa jadi ibu dan hamba Allah yang jauh lebih baik.

Pentingnya Membuat Tradisi yang Membangun Koneksi

Membangun koneksi dalam keluarga itu penting banget. Hal ini membantu menciptakan kenangan indah sebagai sebuah keluarga.

Misalnya nih, tradisi membacakan nyaring sebelum tidur. Anak-anak saya sangat suka dibacakan nyaring. Bahkan hingga umur sepuluh tahun, si sulung selalu menantikan momen ini.

Ritual yang tampak remeh, bisa terasa sangat berharga. Sesimpel berbaring di tempat tidur bersama anak-anak, lalu mereka menceritakan hal-hal kecil yang dialaminya.

Selain itu, kami punya “ritual” liburan saat libur sekolah. Tidak perlu tempat yang jauh, sebetulnya. Terkadang hanya perlu suasana baru untuk lebih bisa melihat dunia secara berbeda. Misalnya dengan staycation di hotel.

Ketika anak-anak terkoneksi dengan orang tua, akan lebih mudah memberikan berbagai pemahaman pada mereka. Ya, orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama akan cenderung lebih mudah berjalan beriringan.

Menyadari Bahwa Segalanya Ada Fasenya

Lucu sih punya fans berat. Kedua anak laki-laki saya itu fans berat saya. Apalagi si bungsu yang tahun ini berusia empat tahun. Ke mana saya pergi, selalu diikuti. Buku yang saya baca, mereka juga ingin baca.

Kala saya ada kegiatan di luar rumah, mereka pun memohon agar bisa ikut serta. Kalaupun tidak bisa ikut, mereka akan menunggu saya pulang di depan gerbang.

Lucu, tapi kadang lelah. Terkadang ingin punya waktu sendiri, tanpa ditingkahi siapapun. Waktu hening bagi diri sendiri yang tidak harus didapat kala seisi rumah terlelap.

Namun, saya paham, semua hal ada fasenya. Ada fase anak selalu mengekori ke mana pun saya pergi. Akan tetapi akan tiba pula fase mereka disibukkan dengan kegiatannya sendiri. Saat itu tiba, mungkin saya akan merasa sangat kesepian.

Menurunkan Ekspektasi Itu Penting

Saya memiliki kecenderungan perfeksionis. Inginnya semua berjalan seperti sesempurna yang saya ingin. Misalnya, saya mengikutsertakan anak ke klub sepeda tanpa pedal.

Bukan tanpa alasan lho, ya, karena si kecil suka kebut-kebutan dengan sepeda tanpa pedalnya. Ternyata saat sudah gabung di klub, anak malah tampak malas-malasan. Fiuh! Ikuti saja si kecil. Jika suka, lanjut. Jika tidak, cari kegiatan lainnya.

“Ya sudah” adalah kata andalan sebagai tanda saya menurunkan ekspektasi. Hal-hal eksternal memang tidak bisa dikontrol. Jika sampai di titik yang rasa-rasanya akan jadi sumber stres, maka saya akan sigap menurunkan ekspektasi.

Menemukan Sisi Baik dari Segala Sesuatu

Ilustrasi menemukan sisi positif/ Foto dari Canva

Pelajaran lain dari sepuluh tahun menjadi ibu adalah pentingnya mencoba menemukan kebaikan dalam segala hal. Hal ini juga akan membantu anak-anak belajar melihat sisi terbaik dalam setiap situasi.

Seperti waktu itu kami sekeluarga memutuskan makan di luar. Ternyata makanan di tempat makan yang disambangi sangat mengecewakan. Rasa biasa saja, harga mahal, dan harus menunggu lama.

“Tahu gitu makan di dekat rumah saja ya, Ma,” bisik si sulung dengan wajah bersungut.

“Iya sih, tapi mungkin ini sudah jadi rezekinya tempat makan ini, Nak. Karena makan di sini, kita juga jadi bisa jalan-jalan lebih lama ‘kan,” timpal saya yang disambut anggukan si sulung.

Ketika Melakukan Kesalahan

Kita bukanlah sosok sempurna, sehingga pasti akan membuat kesalahan. Saat melakukan kesalahan, pasti rasanya tidak nyaman.

Belajar duduk dengan perasaan tidak nyaman itu sulit pada awalnya, butuh waktu untuk menjadikannya menjadi lebih mudah. Jika kita belajar meminta maaf atau mengakui kesalahan, si kecil juga akan belajar meminta maaf.

Jangan sampai mentang-mentang orang tua, jadi merasa paling benar. Segala hal yang tidak sesuai akan dicap salah.

Nah, sewaktu melakukan kesalahan pada anak, selain meminta maaf, ada lagi yang perlu dilakukan. Hal itu adalah membayar lebih atas kesalahan yang kita lakukan. Apabila keceplosan membentak anak, maka kita harus membayar dengan lima kebaikan. Dengan begitu, anak akan dilimpahi hal-hal positif dari orang tuanya.

Tidak Perlu Terlalu Banyak Membantu si Kecil

Anak-anak perlu belajar bagaimana melakukan segala sesuatunya sendiri. Kendati itu berarti mereka mungkin akan melakukan kesalahan saat melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.

Kita sebagai orang tua perlu mendukung anak-anak saat mereka belajar, tapi kita juga perlu membiarkan saat mereka membuat kesalahan, atau membuat pilihan sendiri. Anak-anak akan belajar banyak melalui pengalaman.

Seperti si sulung yang saya biasakan untuk mencuci seragam sekolahnya sendiri. Mulanya dia masih lupa langkah-langkah mencuci baju secara manual. Bagian-bagian baju yang kotor sehingga perlu disikat lebih lama luput darinya. Namun, setelah beberapa waktu, dia mulai terbiasa.

Bahkan dari membiasakannya mencuci seragam sendiri, si sulung jadi lebih berempati pada mamanya. Bahwa pekerjaan mamanya tidaklah ringan. Hanya mencuci sepasang seragam saja bikin pinggang terasa akan copot.

Anak-anak Bukanlah Diri Kita, Mereka Punya Kehendak

Ketika anak-anak masih kecil, mereka memang sangat tergantung pada orang tuanya. Meski demikian, mereka punya kehendak dan pendapat.

Ya, kendati anak-anak lahir dari rahim sendiri, bukanlah diri kita. Mereka tetap saja manusia yang punya kehendak dan pendapat sendiri. Kita harus menghargai kehendak dan pendapat mereka, sepanjang tidak bertentangan dengan syariat agama, norma, dan nilai dalam keluarga.

Karena merasa memiliki posisi sebagai orang tua, kita sering merasa lebih tahu dari anak-anak. Karena itu, merasa pendapat mereka kurang berarti. Parahnya lagi, kita meremehkan kehendak mereka dan memaksakan apa yang kita ingin.

Saya pernah terjebak pada kacamata “orang tua si paling tahu”. Hal itu tentu membuat ketegangan antara saya dan anak. Lantas, pelan-pelan saya mencoba memahami kehendak mereka. Jika melenceng, saya luruskan. Akan tetapi jika tidak ada yang tercederai dengan pendapat mereka, untuk apa diri ini bersikukuh dan merasa paling benar?

Penutup

Omong-omong, di ulang tahun anak saya ini tidak ada kue, kado, atau nasi kuning. Kami makan dengan menu seperti biasa. Hari ini kebetulan ada sayur daun singkong dan ayam goreng.

Ya, di rumah kami memang tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Makan dengan menu istimewa bisa kapan saja, selagi ada rezeki berlebih. Kado untuk anak tidak harus saat dirinya ulang tahun.

Kado bisa diberikan saat anak usai mengikuti kompetisi rubik, atau ketika selesai mengerjakan penilaian di sekolah. Hadiah kecil untuk mengapresiasi keberanian dan kejujurannya.

Dalam satu dekade menjadi ibu ini, banyak sekali pelajaran yang saya petik. Terkadang ada hal-hal menyakitkan, menyayat hati, mengkhawatirkan, dan sulit kala menjalani peran sebagai ibu. Namun saya yakin, momen-momen baik yang dialami tak terhitung jumlahnya.

Baca juga yuk cerita tentang hal-hal yang baru leluasa saya lakukan sebagai ibu setelah resign dari kantor.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.