Fakta-fakta Unik di Balik Wajah Baru Taman Ismail Marzuki

Halo Mama, sudah pernah mengajak si kecil ke Taman Ismail Marzuki (TIM)? Sekarang TIM punya wajah baru lho. Ya, dengan revitalisasi yang dilakukan, harapannya fungsi TIM sebagai taman terbuka publik, pusat kesenian dan kebudayaan, serta edukasi akan kembali.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, saya beberapa kali mengajak anak ke TIM. Banyak hal yang bisa dilakukan di sana. Nonton film, melihat pertunjukan di planetarium, berkunjung ke perpustakaan, juga menyaksikan pertunjukan seni. Terkadang kami hanya jalan-jalan saja, menyusuri tiap sudut TIM. Selanjutnya mengisi perut yang kosong di food court yang tersedia.

TIM kini tampil beda dari tahun-tahun sebelumnya. Revitalisasi yang dilakukan sebenarnya bukan sekadar melakukan pembangunan fisik saja. Namun, ekosistem kebudayaan yang baik dan dapat menumbuhkan seniman baru Indonesia juga semakin didorong.

Nah, di balik wajah barunya, ada sejumlah fakta unik TIM. Yuk, ceritakan fakta unik ini pada si kecil agar pengetahuannya semakin bertambah.

1. Dibangun di Lahan Bekas Kebung Binatang

Kawasan TIM saat masih jadi Kebun Binatang Jakarta/ Foto: Ragunan Zoo

Tahukah Mama TIM dibangun di lahan bekas kebun binatang? Ya, dulu pada tahun 1864 di lokasi TIM berada saat ini merupakan Planten en Dierentuin atau Kebun Botani dan Binatang Batavia. Ini adalah kebun binatang pertama di Batavia maupun di Hindia Belanda, lho.

Kebun binatang itu berada di Jalan Cikini Raya No 73 dengan 10 hektare. Tanah tersebut merupakan hibah dari seorang pelukis ternama, Raden Saleh. Kala itu, lokasi tersebut dianggap paling cocok untuk kebun binatang lantaran dekat dengan permukiman modern di Menteng, serta memiliki jalur transportasi yang memadai.

Kemudian, pada 1949 namanya diubah menjadi Kebun Binatang Cikini. Seiring perkembangan kota Jakarta, Cikini dianggap tak cocok lagi untuk lokasi peragaan dan pemeliharaan satwa. Karena itulah, kebun binatang dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan. Pada 22 Juni 1966, Taman Margasatwa Ragunan mulai dibuka secara resmi.

2. Diambil dari Nama Komponis Pejuang Indonesia

Ismail Marzuki/ Foto: Instagram @wajahbaru_tim

Nama Taman Ismail Marzuki diambil dari seorang komponis yang juga pejuang Indonesia, Ismail Marzuki. Dia adalah anak Betawi asli yang memilih melawan penjajah melalui musik.

Ketika Jepang menjajah Indonesia, Ismail Marzuki menggubah lagu Bisikan Tanah Air dan Indonesia Pusaka. Lagi-lagu tersebut disiarkan di radio untuk membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia. Aksi tersebut membuat Jepang kesal, Ma. Jepang pun memberi cap pemberontak padanya.

Sepanjang hidupnya, pria yang akrab disapa Bang Mail atau Bang Ma’ing ini menciptakan sekitar 200 lagu. Masya Allah, produktif sekali. Beberapa judul lagunya mungkin Mama kenal, seperti Gugur Bunga, Halo Halo Bandung, Selendang Sutera, dan Sepasang Mata Bola.

Mengutip voi.id, karya Ismail Marzuki mengedepankan kebebasan berekspresi. Hal itu membuatnya leluasa bergerak antar genre, sehingga lihai menyelipkan kritikan dalam lagunya.

3. Tempat para Seniman Merintis Karier Seni

TIM masa lalu/ Foto: Instagram @wajahbaru_tim

TIM diresmikan pada 10 November 1968. Sejak itu TIM kerap menjadi tempat penyelenggaraan berbagai event kesenian. Pementasan musik, film, wayang, pergelaran tari, pertunjukan teater, hingga pameran lukisan digelar secara rutin.

TIM memang didirikan sebagai tempat para seniman berkarya. Gubernur DKI Jakata kala itulah, Ali Sadikin, yang berupaya membangun TIM. Upaya ini lahir setelah para seniman tidak bisa berkarya lagi di Pasar Senen dan Balai Budaya Jakarta.

Mengutip informasi dari Indonesia Kaya, dengan adanya TIM, para seniman lebih leluasa melahirkan karyanya. Bahkan dari TIM, seniman seperti Rendra, Sardono W. Kusumo, Farida Oetojo, Arifin C. Noer, Suyatnya Anrun, Affadi pernah merintis karier seninya.

TIM telah menjadi saksi perkembangan seni di Indonesia. Tidak hanya pergelaran karya seniman lokal, tetapi juga internasional. Misalnya saja koreografer ternama dunia asal Amerika Serikat, Martha Graham, pernah tampil di TIM pada tahun 1974. Keren!

4. Gedung yang Terinspirasi Lagu

Gedung Panjang yang ikonik/ Foto: Instagram @wajahbaru_tim

Di wajah baru TIM ada satu fakta unik terkait salah satu gedungnya. Sebuah gedung di kawasan TIM rupanya dibuat sang arsitektur, Andra Matin, dengan inspirasi lagu ciptaan Ismail Marzuki; Rayuan Pulau Kelapa.

Bangunan unik itu adalah Gedung Panjang, yang di dalamnya terdapat perpustakaan dan wisma seni. Kelak jika berkunjung ke TIM, coba deh Mama dan si kecil perhatikan sisi bangunan yang tidak rata selayaknya gedung tinggi di Jakarta. Ada bagian yang terlihat seperti berundak-undak. Nah, itulah gambaran not balok di beberapa lirik Rayuan Pulau Kelapa.

Ada pula elemen motif tumpal dari batik Betawi di bangunan tersebut. Konon, elemen tersebut bisa mereduksi sinar matahari ke area perpustakaan. Wah, selain lebih estetik, juga jadi lebih sejuk.

Gedung Panjang juga representasi dari kapal Pinisi. Seperti kita tahu, kapal kayu dari Bulukumba, Sulawesi Selatan ini legendaris banget. Pasalnya diperkirakan sudah dibuat sejak abad ke-14.

Tak hanya itu, Gedung Panjang juga terinspirasi rumah panggung, yang merupakan salah satu bangunan khas Indonesia. Lihat deh, Ma, ada bagian di gedung yang mirip dengan rumah panggung. Bagian tersebut dibuat terangkat dari tanah dan memiliki tiang penopang.

5. Ada Pohon Tua Berusia Lebih dari Setengah Abad

Dua pohon tua di kawasan TIM/ Foto: Instagram @wajahbaru_tim

Ada sosok tua di kawasan TIM. Sejak area TIM masih merupakan Kebun Binatang Cikini, sosok ini sudah ada. Eit, jangan merasa horor ya. Soalnya yang dimaksud sosok tua ini adalah pohon-pohon tua.

Jika berkunjung ke TIM, kita bisa melihat penampakan beringin tua di area plaza Masjid Amir Hamzah. Pohon tua lainnya ada di depan Gedung Graha Bhakti Budaya (GBB) dan Gedung Teater Kecil. Nah, pohon ini adalah jenis mahoni.

Usia pasti pohon-pohon tersebut belum diketahui, yang jelas sudah lebih dari 50 tahun alias lebih dari setengah abad. Kendati tua, tetapi pohon-pohon itu masih terlihat gagah dan kuat. Keberadaan pohon itu menjadi saksi kegiatan seni di TIM dari masa ke masa.

Oh ya, setiap Kamis sore, TIM membuka kunjungan untuk umum. Kegiatan ini adalah bagian persiapan TIM urban tourism.

Jika Mama hendak berkunjung, pastikan mengisi formulir registrasi ini dulu ya. Pihak TIM akan mengkonfirmasi siapa saja yang akan hadir, sesuai data yang masuk. Wah, bisa melihat proses pembangunan revitalisasi TIM nih. Jangan lupa pakai outfit yang nyaman dan abadikan foto di titik-titik yang instagramable.

Referensi:

Ragunan Zoo. Sejarah Singkat. https://ragunanzoo.jakarta.go.id/tentang/short-history/ diakses pada 7 Desember 2021.

Fitri R. Irmalasari. Bataviaasche Planten en Dierentuin: KemunculanvGagasan Konservasi Satwa Melalui Kebun Binatang oleh Elite Batavia 1864 -1942. Jurnal Kebudayaan, Vol. 11 No 2, September 2016.

VOI. Jalan Ninja Ismail Marzuki Lawan Penjajah Pakai Musik. https://voi.id/memori/103002/jalan-ninja-ismail-marzuki-lawan-penjajah-pakai-musik diakses pada 7 Desember 2021.

Indonesia Kaya. Taman Ismail Marzuki, Saksi Bisu Perkembangan Khazanah Seni Indonesia. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/taman-ismail-marzuki-saksi-bisu-perkembangan-khazanah-seni-indonesia/

Jakpro. Arsitek Taman Ismail Marzuki (TIM) Ungkap Filosofi Desain Bangunan Gedung Panjang, https://www.jakarta-propertindo.com/arsitek-taman-ismail-marzuki-tim-ungkap-filosofi-desain-bangunan-gedung-panjang/

CNN Indonesia. Sejarah Taman Ismail Marzuki, Pusat Seni Budaya di Ibu Kota. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210928151049-275-700518/sejarah-taman-ismail-marzuki-pusat-seni-budaya-di-ibu-kota diakses pada 7 Desember 2021.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.